KAYANGAN

Setiap malam minggu, anak-anak umuran SD yang ada di dusunku selalu belajar qira’ah (ngaji) di rumah Pakdhe Hari, baik laki-laki maupun perempuan. Kami berangkat setelah salat maghrib. Karena rumahku cukup dekat dengan rumah Pakde Hari jadinya aku nunggu teman-temanku yang rumahnya agak jauh.

Qira’ah selesai ketika adzan Isya’ berkumandang dan dilanjutkan salat Isya’ bersama. Setelah salat Isya’, kita dipersilahkan untuk pulang. Biasanya kita yang laki-laki, setelah qiraah pergi ke halaman masjid untuk bermain bola. Waktu itu kita sekitar tiga belas orang pergi ke halaman masjid.

Kondisi dusunku waktu itu penerangannya masih kurang dan jarak antar rumah cukup renggang, nggak mepet-mepet bahkan gandeng seperti yang ada di perkotaan. Dan penerangan di jalan hanya ada di setiap perempatan saja. Jadi sepanjang jalan terlihat samar agak gelap gitu ya.

Dan tiba-tiba disalah satu perempatan, kita dikagetkan dengan munculnya seorang nenek-nenek dari arah selatan. Nenek-nenek itu berbaju seperti kebaya warna hitam dan memakai jarik serta memakai sandal tiba-tiba muncul di perempatan yang ke sorot lampu. Namanya anak-anak zaman dulu yang masih lugu, ramah, dan sopan. Teman-temanku bertanya dengan santai. “Ajeng teng pundi mbh?”. Nenek tersebut menjawab, “Arep neng kayangan le”. Dan disaat itu juga, aku langsung sangat takut. Aku melihat teman-temanku ada yang masih ketawa-ketawa dan ada yang diam. Aku tahu bahwa temanku yang diam itu juga ngeh. Nenek itu jalan ke arah utara menuju pertigaan yang kalo ke kiri ke arah masjid dan jika ke arah kanan itu ke arah beberapa rumah.

Aku pun langsung bertanya kepada teman-temanku. “Cah kowe sadar gak kayangan ki opo?”. Beberapa temanku yang tidak ngeh bertanya balik. “ Emange opo?”.

“Kayangan kui nek neng tivi, wong sek lagi bar mati manggone neng kayangan.” Aku menjelaskan. “Dadi mbhe kae mau setan?” teman-teman kaget.

Mata kita semua langsung menuju arah nenek yang sedang berjalan ke arah utara, aku dan teman-temanku malah mengejar nenek tersebut. Nenek tersebut berbelok ke kiri atau ke arah masjid. Dan kita benar-benar dikagetkan setelah belok kiri nenek tersebut menghilang. Yang mana jarak ke masjid sekitar 200 meter dan dengan kita berlari harusnya kita masih bisa mengejar nenek tersebut.

Dan ketika kita di masjid, ternyata masih ada kakek-kakek yang baru selesai dzikiran.kami pun bertanya “Mbh, ndek wau enten mbah-mbah setri ajeng teng kayangan. Kayangan niku pundi nggeh mbh?”. Dan menurut sang kakek, kayangan itu adalah salah satu desa di kecamatan Ngrambe.

Tapi yang membuat aku dan teman-temanku bertanya-tanya adalah kemanakah nenek-nenek tersebut setelah belok kiri ke arah masjid? Apakah beneran ke arah kebun? kalo ke arah kebun, itu jalannya susah dan sangat gelap. Itulah cerita horor yang masih menjadi misteri buatku. Heheheeh

Comments